![]() |
|
Foto: Emyen LeonyArya Irolf Goran
|
Bugalima – Para pelajar SMP Negeri Satu Atap (Satap) Bugalima mengikuti kegiatan praktik muatan lokal dengan mengolah pangan tradisional Jagung Bose, salah satu makanan khas Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah lama menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut bertujuan untuk mengenalkan sekaligus melestarikan kekayaan kuliner daerah kepada generasi muda. Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya mempelajari cara pembuatan makanan tradisional, tetapi juga memahami nilai budaya dan potensi pangan lokal yang dimiliki daerah mereka.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa dibimbing oleh guru untuk menyiapkan berbagai bahan yang diperlukan. Jagung pipil menjadi bahan utama yang digunakan dalam proses pembuatan Jagung Bose. Jagung kemudian direbus hingga lunak sebelum dicampurkan dengan berbagai bahan pelengkap.
Selain jagung, siswa juga menambahkan aneka sayuran dan bahan pangan lainnya untuk memperkaya cita rasa serta meningkatkan kandungan gizi makanan. Proses memasak dilakukan secara bersama-sama sehingga setiap siswa dapat terlibat langsung dalam setiap tahapan pengolahan.
Guru pembimbing menjelaskan bahwa Jagung Bose merupakan salah satu makanan tradisional yang masih banyak dikonsumsi masyarakat NTT. Hidangan ini dikenal sebagai sumber energi yang baik dan sering disajikan dalam berbagai kegiatan keluarga maupun acara adat.
Kami ingin siswa mengenal makanan tradisional daerahnya sendiri. Selain belajar memasak, mereka juga belajar menghargai warisan budaya dan memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar mereka, ujarnya.
Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka bergantian membersihkan bahan, mengaduk masakan, dan memperhatikan proses pengolahan hingga makanan siap disajikan. Suasana belajar menjadi lebih menarik karena siswa memperoleh pengalaman langsung yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas.
Setelah proses memasak selesai, hasil olahan Jagung Bose dinikmati bersama oleh para siswa dan guru. Banyak siswa mengaku senang karena dapat mempelajari cara membuat makanan tradisional yang selama ini sering mereka konsumsi di rumah tetapi belum pernah mereka olah sendiri.
Kegiatan praktik muatan lokal ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pentingnya diversifikasi pangan. Di tengah dominasi konsumsi beras, jagung tetap memiliki peran penting sebagai sumber pangan yang bernilai gizi dan memiliki akar kuat dalam tradisi masyarakat NTT.
Pihak sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus membekali siswa dengan keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis praktik dinilai mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan daerahnya.
Melalui kegiatan pengolahan Jagung Bose, SMPN Satap Bugalima tidak hanya mengajarkan keterampilan memasak, tetapi juga menanamkan nilai pelestarian budaya, kemandirian, dan pemanfaatan potensi lokal kepada peserta didik. Dengan demikian, generasi muda diharapkan semakin mengenal, mencintai, dan menjaga warisan kuliner khas Nusa Tenggara Timur agar tetap lestari dari generasi ke generasi.
